Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya. Dari semenjak nabi adam hingga nabi akhir zaman, nabi muhammad SAW, yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah. Islam inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dipeluk umat islam sehingga urusan mereka menjadi baik, di dunia dan tentunya juga di akhirat.
Di paparkan bahwa Islam adalah akidah yang tercermin dengan dua syahadat dan rukun-rukun iman, islam adalah ibadah yang tercerminakan dengan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji. Kedua hal tersebut merupakan rukun-rukun islam yang menjadi pondasi atas bangunan-bangunan islam dan juga menjadi dasar seseorang untuk memasuki gerbang pintu agama islam. Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang di bebankan pada seluruh umat manusia, di barat dan di timur serta di utara dan diselatan, berkulit hitam maupun putih .Allah SWT menyatakan bahwa dia tidak akan menerima sistem hidup selain agama islam sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-imran ayat 19(yang artinya) :
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Yang dimaksud dengan islam adalah risalah yang diturunkan Allah SWT melalui nabi muhammad SAW. Risalah ini merupakan penutup risalah allah swt dan dengan demikian risalah yang di bawa nabi pendahulu sebelum nabi muhammad dinyatakan tidak berlaku lagi, karena itu seluruh manusia diwajibkan untuk memeluk agama islam sampai dengan hari kiamat dan barangsiapa yang tidak mengimani islam sedangkan seruan itu datang kepadanya, maka ia dinyatakan sebagai ahli neraka.
Islam adalah satu-satunya jawaban yang bersih dan benar terhadap semua persoalan manusia.Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi keyakinan, ibadah, dan syiar-syiar.Islam merupakan neraca dan satu-satunya tolak ukur dari semua sisi kehidupan manusia.Dari islamlah terefleksinya petunjuk yang benar dan lurus serta selamat dalam segala hal.
Islam adalah satu sistem yang lengkap dan sempurna, karena ia mencakup segala hal, mulai dari militer, kehidupan sosial dan politik, pendidikan, ibadah, usaha dan bisnis.Oleh karena itu mengabaikan atau melupakan sistem islam berarti pula menghalangi perjalan sistem itu sendiri.Begitu juga menegakan politik yang tidak berdasarkan pada pilar-pilar islam merupakan suatu kendala sekaligus tantangan terhadap islam.
Yang terkahir, seluruh sektor kehidupan kaum muslimin harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai dan syariat islam, mulai dari politik, ekonomi, kehidupan sosial dan sektor-sektor lainnya.Tidak dibenarkan melaksanakan islam secara parsial (tentunya selama kondisi dan situasi memungkinkan).
Prophetic Leadership
Dalam surat Al-imron ayat 110 Allah SWT Berfirman(yang artinya) :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dari Surat di atas, allah menyatakan bahwa umat islam adalah umat yang terbaik yang diciptakan allah diantara ciptaan-ciptaan lainnya, selain itu dari ayat diatas, terdapat penafsiran tentang prophetic leadership yakni kepemimpinan yang membebaskan penghambaan terhadap manusia dan lebih jauh lagi menurut (Alm)Prof. Dr. Kurtowijoyo surat al-imron ayat 110 diatas menggambarkan kepemimpinan profetik yang membawa Misi :
1. (Ta` muruna bil ma`ruf ) : membawa misi humanisasi yakni memanusiakan manusia, menghilangkan kebendaan menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia.
2. (Tan hauna anil munkar ) : yakni misi liberasi atau pembebasan manusia dari belenggu keterpurukan, kemiskinan, kebodohan lalu mengangkat harkat hidup masyarakat, serta yang paling penting adalah bertanggung jawab dengan apa yang telah di kerjakannya sebagai manusia.
3. (Tu`minuna Billah ) : Membawa misi transedensi yakni menjadikan nilai-nilai transedental atau keimanan sebagai bagian penting dari dari proses membangun peradaban, transedensi menempatkan agama (nilai-nilai islam) yang sangat sentral dalam prophetic leadership
Prophetic leadership merupakan kepemimpinan yang berdasarkan konsep kenabian yang di bawa mulai dari nabi adam sampai dengan yang nabi akhir zaman yakni nabi muhammad, bebicara mengenai kepemimpinan kenabian (propehtic leadership) tak akan mungkin terlepas dari sifat-sifat nabi dan juga berdasarkan al-qur`an dan as-sunnah yang sangat bedampak positif bagi orang lain, organisasi dan masyarakat pada umumnya.
Kemampuan kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang nabi muhammad SAW menurut Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya The Super Leader Super Manager nabi muhammad memiliki 8 kepemimpinan di 8 bidang utama yaitu dalam bidang militer, bisnis dan kewirausahaan, keluarga, dakwah, sosial, politik, pendidikan dan sistem hukum. Selain itu nabi muhammad juga memiliki kemampuan memipin diri sendiri, kemampuan manajerial, konsep relasi , visi dan misi berdasarkan Al-qur`an bersikap tawadhu serta memiliki empat sifat kenabian yakni siddiq atau benar, amanah atau terpercaya, tabligh atau menyampaikan apa adanya sesuai fakta serta yang terakhir adalah fathonan yakni pandai.
Kepemimpinan prophetic berdasarkan al-qur`an dan as-sunnah sangat berdampak positif bagi masyarakat sekitar, ada beberapa contoh kisah nabi muhammad yang mengambarkan dampak-dampak positif tersebut diantaranya ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa di sudut kota madinah, ada seorang pengemis yahudi tua yang setiap harinya selalu berkata “ wahai saudaraku, janganlah engkau dekati muhammad, dia itu orang gila, dia itu tidak waras dan dia itu juga pembohong besar, maka apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya “, namun seperti biasanya nabi muhammad selalu mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berucap sepatah katapun beliau menyuapi pengemmis tua tersebut.
Rasullulah melakukannya sampai beliau wafat, setelah wafatnya rasulullah tidak ada lagi yang mendatanginya dengan membawa makanan dan minuman setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu: “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku (Muhammad SAW) yang belum aku kerjakan?”Aisyah RA menjawab: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik: “Siapakah kamu!”. Abubakar RA menjawab: “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”. pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu: “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada”. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata: “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu berprasasangka buruk padanya, menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Itulah sedikit cerita bagaimana kepemimpinan seorang nabi muhammad yang begitu mulia, yang seharusnya dapat kita contoh konsep-konsep kepemimpinan beliau, apalagi kita sebagai generasi muda yang kelak nanti akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini. Semoga dengan mencontoh atau setidaknya berusaha untuk mendekati sifat-sifat kepemimpinan beliau, bangsa indonesia akan semakin sejahtera dan jaya, insya allah
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Dari Surat di atas, allah menyatakan bahwa umat islam adalah umat yang terbaik yang diciptakan allah diantara ciptaan-ciptaan lainnya, selain itu dari ayat diatas, terdapat penafsiran tentang prophetic leadership yakni kepemimpinan yang membebaskan penghambaan terhadap manusia dan lebih jauh lagi menurut (Alm)Prof. Dr. Kurtowijoyo surat al-imron ayat 110 diatas menggambarkan kepemimpinan profetik yang membawa Misi :
1. (Ta` muruna bil ma`ruf ) : membawa misi humanisasi yakni memanusiakan manusia, menghilangkan kebendaan menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia.
2. (Tan hauna anil munkar ) : yakni misi liberasi atau pembebasan manusia dari belenggu keterpurukan, kemiskinan, kebodohan lalu mengangkat harkat hidup masyarakat, serta yang paling penting adalah bertanggung jawab dengan apa yang telah di kerjakannya sebagai manusia.
3. (Tu`minuna Billah ) : Membawa misi transedensi yakni menjadikan nilai-nilai transedental atau keimanan sebagai bagian penting dari dari proses membangun peradaban, transedensi menempatkan agama (nilai-nilai islam) yang sangat sentral dalam prophetic leadership
Prophetic leadership merupakan kepemimpinan yang berdasarkan konsep kenabian yang di bawa mulai dari nabi adam sampai dengan yang nabi akhir zaman yakni nabi muhammad, bebicara mengenai kepemimpinan kenabian (propehtic leadership) tak akan mungkin terlepas dari sifat-sifat nabi dan juga berdasarkan al-qur`an dan as-sunnah yang sangat bedampak positif bagi orang lain, organisasi dan masyarakat pada umumnya.
Kemampuan kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang nabi muhammad SAW menurut Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya The Super Leader Super Manager nabi muhammad memiliki 8 kepemimpinan di 8 bidang utama yaitu dalam bidang militer, bisnis dan kewirausahaan, keluarga, dakwah, sosial, politik, pendidikan dan sistem hukum. Selain itu nabi muhammad juga memiliki kemampuan memipin diri sendiri, kemampuan manajerial, konsep relasi , visi dan misi berdasarkan Al-qur`an bersikap tawadhu serta memiliki empat sifat kenabian yakni siddiq atau benar, amanah atau terpercaya, tabligh atau menyampaikan apa adanya sesuai fakta serta yang terakhir adalah fathonan yakni pandai.
Kepemimpinan prophetic berdasarkan al-qur`an dan as-sunnah sangat berdampak positif bagi masyarakat sekitar, ada beberapa contoh kisah nabi muhammad yang mengambarkan dampak-dampak positif tersebut diantaranya ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa di sudut kota madinah, ada seorang pengemis yahudi tua yang setiap harinya selalu berkata “ wahai saudaraku, janganlah engkau dekati muhammad, dia itu orang gila, dia itu tidak waras dan dia itu juga pembohong besar, maka apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya “, namun seperti biasanya nabi muhammad selalu mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berucap sepatah katapun beliau menyuapi pengemmis tua tersebut.
Rasullulah melakukannya sampai beliau wafat, setelah wafatnya rasulullah tidak ada lagi yang mendatanginya dengan membawa makanan dan minuman setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu: “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku (Muhammad SAW) yang belum aku kerjakan?”Aisyah RA menjawab: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik: “Siapakah kamu!”. Abubakar RA menjawab: “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”. pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu: “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada”. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata: “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu berprasasangka buruk padanya, menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Itulah sedikit cerita bagaimana kepemimpinan seorang nabi muhammad yang begitu mulia, yang seharusnya dapat kita contoh konsep-konsep kepemimpinan beliau, apalagi kita sebagai generasi muda yang kelak nanti akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini. Semoga dengan mencontoh atau setidaknya berusaha untuk mendekati sifat-sifat kepemimpinan beliau, bangsa indonesia akan semakin sejahtera dan jaya, insya allah
Live with Idealism in the current and future situationt
Apakah sulit hidup dengan memegang teguh idealisme ? mungkin ada 2 jawaban yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, sangat mudah dan juga sangat sulit. Hidup dengan idealisme merupakan hidup dengan memegang teguh dengan apa yang diyakini benar tanpa dapat berkompromi, hal tersebut memang cenderung mendekati sifat egois, namun hal tersebut sangatlah berbeda, idealisme merupakan sikap yang tergambarkan dengan keteguhan ucapan dan sikap sesuai dengan apa yang dipercayainya, sedangkan egois adalah sikap mau menang sendiri tanpa memikirkan orang disekitar.
Dalam membentuk sikap idealisme, harus ada kemauan dan rasa kepercayaan diri bahwa dengan hidup mengikuti idealisme kita, kita yakin bahwa apa yang akan kita dapatkan dikemudian hari akan sesuai dengan apa yang kita rencanakan sebelumnya, jika tidak, maka diri kita akan terjebak dalam situasi pragamatis dimana kepercayaan akan idealisme kita dapat tertawar oleh keadaan lingkungan sekitar kita, bukan hanya mempengaruhi sikap kita akan kepercayaan dan keyakinan, namun juga mempengaruhi akan hasil yang akan kita dapatkan dimasa yang akan datang.
Terkadang, hidup tidaklah sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan, semuanya tergantung situasi dan kondisi yang terjadi pada lingkungan kita, untuk menyikapi agar hidup kita tetap pada trek yang benar sesuai dengan apa yang kita cita-citakan, mesti ada sikap idealisme yang merangkai pola pikir serta tindakan kita agar segala aktifitas kita benar-benar terfokus dengan apa yang kita harapkan di masa depan.
Sebagai mahasiswa islam, yang dituntut untuk berprestasi tidak hanya dalam bidang akademik, namun juga di semua bidang yang digeluti, mulai dari organisasi sampai dengan kompetisi-kompetisi, sikap hidup dengan memegang teguh idealisme haruslah di miliki dan diaplikasikan, karena hanya dengan sikap itulah semua rangkaian aktifitas kita akan terstruktur dengan rapi dan jelas arah tujuannya, selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah poin-poin idealisme itu sendiri yang harus sesuai dengan kepercayaan kita yakni agama islam.
Dalam membentuk sikap idealisme, harus ada kemauan dan rasa kepercayaan diri bahwa dengan hidup mengikuti idealisme kita, kita yakin bahwa apa yang akan kita dapatkan dikemudian hari akan sesuai dengan apa yang kita rencanakan sebelumnya, jika tidak, maka diri kita akan terjebak dalam situasi pragamatis dimana kepercayaan akan idealisme kita dapat tertawar oleh keadaan lingkungan sekitar kita, bukan hanya mempengaruhi sikap kita akan kepercayaan dan keyakinan, namun juga mempengaruhi akan hasil yang akan kita dapatkan dimasa yang akan datang.
Terkadang, hidup tidaklah sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan, semuanya tergantung situasi dan kondisi yang terjadi pada lingkungan kita, untuk menyikapi agar hidup kita tetap pada trek yang benar sesuai dengan apa yang kita cita-citakan, mesti ada sikap idealisme yang merangkai pola pikir serta tindakan kita agar segala aktifitas kita benar-benar terfokus dengan apa yang kita harapkan di masa depan.
Sebagai mahasiswa islam, yang dituntut untuk berprestasi tidak hanya dalam bidang akademik, namun juga di semua bidang yang digeluti, mulai dari organisasi sampai dengan kompetisi-kompetisi, sikap hidup dengan memegang teguh idealisme haruslah di miliki dan diaplikasikan, karena hanya dengan sikap itulah semua rangkaian aktifitas kita akan terstruktur dengan rapi dan jelas arah tujuannya, selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah poin-poin idealisme itu sendiri yang harus sesuai dengan kepercayaan kita yakni agama islam.
Langganan:
Postingan (Atom)
Lorem
Please note:
Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.
Ipsum
Please note:
Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.
Dolor
Please note:
Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.
